Senin, 17 September 2007

Polisi "lagi" Tidur

Wew, tugas is coming.. Yang kali ini masalahnya bikin polisi-polisi tidur. Bukan pake obat tidur, tapi bikin tuh gundukan-gundukan di tengah jalan.

Jadi ceritanya begini. Di depan sebuah institut yang sangat terkemuka di tengah kota kembang, terdapat sepotong jalan yang bernama jalan Ganesa. Jalan ini lumayan besar, panjang dan mulus tanpa sebuah polisi tidur. Pada saat siang tentu jalan ini banyak dilalui oleh kendaraan-kendaraan dari kedua arah, tetapi pada saat malam hari tidak begitu keadaannya. Mungkin situasi inilah yang membuat anak-anak motor atau mobil suka sekali untuk ngebut-ngebutan di jalan tersebut di kala malam.

Nah, warga di sekitar jalan tersebut tidak menyukai aksi para anak muda tersebut karena selain membuat kebisingan, mereka juga membahayakan para mahasiswa dari universitas ternama tadi yang tentunya sering lalu-lalang.

Berdasar dari hal tersebut ketua RW mengadakan rapat untuk menentukan perlu tidaknya dipasasng polisi tidur di jalan tersebut untuk menanggulangi aksi kebut-kebutan anak muda. Di akhir acara, keputusan final untuk rapat tersebut tiba-tiba diserahkan pada kami berlima, kelompok muda RW yang kebetulan merupakan mahasiswa teknik dari institut tersebut.

Menurut prinsip Teori moral dari buku Concept Engineering, terdapat 3 prinsip penentuan sebuah keputusan moral yaitu:

  • Keegoismean pribadi.
    Saya sebagai pribadi tentunya mempunyai perasaan egois. Karena saya adalah salah satu mahasiswa yang menggunakan motor sebagai sarana trasportasi untuk pergi ke kampus, tentunya dalam hati saya menolak usul dipasangnya polisi tidur tersebut karena mengganggu kenyamanan dalam berkendara. Belum lagi kalau polisi tidur yang akan dibuat runcing dan tinggi.

  • Utilitarianisme
    Namun dalam penentuan keputusan kita tidak boleh hanya mementingkan keinginan pribadi. Apalagi sebagai mahasiswa teknik, kami harus dapat mengambil keputusan berdasarkan riset terpadu dan tersistematika, oleh karena itu kami mencoba menggunakan prinsip utilitarianisme, yaitu prinsip baik buruk bagi target sasaran.
    Rumusnya:
    Hapiness objective function = Σ (benefit)(importance) – Σ (harm)(importance)
    Nah, dari hasil riset, hasil kami adalah sebagai berikut:
    HOF = + (Kecelakaan dapat dihindari)( kepentingan=10)
    + (Kebut-kebutan berkurang)( kepentingan=6)
    + (Ketenangan meningkat)( kepentingan=5)
    - (Pengeluaran biaya pembuatan dan perawatan)( kepentingan=8)
    - (Mengurangi kenyamanan bagi pengguna jalan)( kepentingan=6)
    - (Membuat macet di kala siang)(kepentingan=9
    - (Sedikit merusak mobil)(kepentingan=5)
    = (50)(9) + (30)(6) + (20)(5) – (15)(8) – (20)(6) – ( 50)(9) – (15)(5)
    = + 1.5 ==> baik untuk dilaksanakan

  • Analisis hak
    Setelah mendapatkan hasil tersebut, saya pun harus mengalah dan tidak mementingkan egoisme saya sendiri. Kemudian kami menindaklanjuti hasil tersebut dengan melakukan analisis hak. Pertanyaannya adalah apakah kami berhak untuk membuat polisi tidur di jalan tersebut?
    Dari sisi pengguna jalan, mereka mempunyai hak untuk menggunakan jalan dengan nyaman. Di sisi lain, warga juga mempunyai hak untuk memiliki lingkungan yang aman dan tentram. Lalu bagaimana? Setelah memperdebatkannya kami setuju bahwa jalan tengah dari kedua permasalahan tersebut adalah dengan tetap memasang polisi tidur, namun dengan desain yang nyaman bagi para pengguna jalan. Dengan begitu kedua masalah terpecahkan, yaitu para pengendara tetap merasa nyaman, dan para pengebut jalanan tidak dapat melajukan kendaraannya cepat-cepat.


Atas solusi tersebut, kami berlima pun mendapat sambutan yang baik dan diajak untuk masuk ke dalam dewan pertimbangan RW. Hahaha.. senangnya satu masalah lagi terselesaikan, walaupun masalah lainnya sudah baris mengantri untuk dipecahkan.

1 komentar:

97geek mengatakan...

"aya-aya wae" gak ngerjain PR. Padahal nge-blog itu asyiikkk